Ahad, 20 Januari 2019

PENTING SANGKA BAIK KPD ALLAH DALAM KEHIDUPAN


BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH

Allah menegaskan bahawa iman, taqwa, ihsan, baik sangka dan kata-kata yang baik akan memandu manusia kepada kehidupan yang baik dan menjamin manusia memasuki syurga Allah.
Sebaliknya keraguan, tabiat hidup yang buruk, perkataan yang negatif, lintasan hati yang jahat akan mencetuskan aura buruk, semangat yang lemah dan mendorong kepada kegagalan di dunia dan akhirat.

Termasuk adab kepada Allah adalah berbaik sangka kepada-Nya. Berbaik sangkalah kepada Allah dalam segala hal. Sebagai contoh sederhana, jika kita berdo’a dan dikabulkan, maka hilangkanlah perasaan bahwa Allah tidak mengasihi kita atau Allah tidak adil, semua ini bentuk kurang adab kepada-Nya, berbaiksangkalah kepada Allah karena Dia akan menuruti persangkaan para hamba-Nya. Berdasarkan hadits:
عن أبي هريرة قال : قال النبي : يقول الله : أنا عند ظن عبد بي
Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda, Allah berkata: “Aku menuruti persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku.”[7]
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Makna hadits ini bahwa Allah akan menuruti persangkaan hamba-Nya, maka Dia akan memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan persangkaan hamba itu kepada-Nya berupa kebaikan atau kejelekan.”[8]
Maka jadikanlah prasangkamu kepada Allah selalu perkara baik, niscaya Allah akan membalasnya dengan kebaikan pula. Sahabatnya mulia Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Demi Dzat yang tidak ada sembahan selain-Nya, tidaklah seseorang diberikan pemberian yang paling baik daripada prasangka baiknya kepada Allah. Demi Dzat yang tidak ada ilah selain-Nya, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah melainkan Allah akan memberikan apa yang menjadi prasangkanya. Hal itu karena kebaikan ada di tangan-Nya.”[9]
Dan perlu kami ingatkan di sini, bahwa sikap berbaik sangka kepada Allah bukan berarti kita bersandar dengan rahmat-Nya dan tidak takut akan siksa-nya, seperti orang yang berbuat maksiat lalu dia menyangka bahwa Allah tidak mengawasi dan tidak akan membalasnya, Allah telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:
وَمَا كُنتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَكِن ظَنَنتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيراً مِّمَّا تَعْمَلُونَ  وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنْ الْخَاسِرِينَ
Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Rabbmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Fushshilat [41]: 22-23)

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan), karena sebagian dari purbasangka itu dosa. (QS. al-Hujurot [49]: 12)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah melarang para hamba-Nya yang beriman dari perbuatan banyak curiga, prasangka, dan dugaan, baik kepada keluarga, kerabat, atau manusia pada umumnya jika tidak pada tempatnya. Sebab, pada sebagian prasangka dan curiga itu terdapat dosa, maka jauhilah perbuatan banyak curiga sebagai pencegahan dari dosa.” [11]
HUKUM BURUK SANGKA
Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah memasukkan buruk sangka sebagai perbuatan dosa besar. Beliau berkata, “Dosa besar ini termasuk perkara yang harus diketahui oleh seorang mukallaf, agar dia bisa terhindar dan dapat mengobatinya. Sebab, barang siapa yang dalam hatinya ada perangai buruk sangka, dia tidak akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan hati yang selamat. Dosa besar ini menjadikan seorang hamba tercela, lebih besar celaannya dari perbuatan zina, mencuri, minum khamar, dan dosa lainnya karenadampak kerusakan dari buruk sangka sangat besar, pengaruhnya sangat jelek dan akan terus ada.”[12]
MACAM-MACAM BURUK SANGKA
Buruk sangka ada dua macam dan keduanya termasuk dosa besar, yaitu:[13]
Pertama: Buruk sangka kepada Allah
Perbuatan ini lebih besar dosanya daripada berputus asa dari rahmat Allah. Buruk sangka kepada Allah tidak sekadar putus asa, tetapi lebih besar dari itu. Ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahwa Allah akan menuruti persangkaan para hamba-Nya. Ingatlah selalu hadits yang berbunyi:
أنا عند حسن ظن عبدي بي فليظن بي ما شاء ، إن خيرا فخير وإن شرا فشر
Aku menuruti persangkaan baik para hamba kepada-Ku. Hendaklah ia berprasangka sekehendaknya. Apabila ia berprasangka baik maka akan baik, apabila ia berprasangka buruk maka akan buruk pula.”[14]
Jika kita mendapat sesuatu yang menurut kita tidak baik, maka janganlah berburuk sangka kepada Allah bahwa Allah tidak mengasihi dan tidak adil kepada kita. Akan tetapi berbaik sangkalah kepada-Nya, karena hasil dan buahnya juga akan baik. Perhatikanlah hal ini wahai saudaraku seiman! Janganlah kita mengikuti kebiasaan orang-orang yang selalu berburuk sangka kepada Allah. Allah mengingatkan perkara ini dalam firman-Nya:
إِذْ تُصْعِدُونَ وَلاَ تَلْوُونَ عَلَى أحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ فَأَثَابَكُمْ غُمَّاً بِغَمٍّ لِّكَيْلاَ تَحْزَنُواْ عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ مَا أَصَابَكُمْ وَاللّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ  ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّن بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُّعَاساً يَغْشَى طَآئِفَةً مِّنكُمْ وَطَآئِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الأَمْرِ مِن شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ
(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan[15] , supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu[16] , sedang segolongan lag[17]i telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah[18] . Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah“. (QS. Ali Imron [3]: 153-154)
Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Kebanyakan manusia berburuk sangka kepada Allah, baik dalam perkara yang menimpa mereka atau selain mereka. Sedikit sekali orang yang selamat dari hal ini kecuali orang yang punya pengetahuan terhadap nama dan sifat Allah. Hendaknya orang yang berakal memperhatikan masalah ini. Segeralah bertaubat dan memohon ampun kepada Allah jika kita berburuk sangka kepada –Nya. Jika engkau lihat dan perhatikan keadaan manusia, di antara mereka ada yang berlebihan dalam masalah takdir, dia berkata, ‘Seharusnya begini dan begini.’ Maka berintrospeksilah sendiri apakah engkau selamat dari hal ini? Jika engkau selamat maka engkau telah selamat dari perkara yang besar, jika tidak maka aku tidak mengira engkau bisa selamat.”[19]
Kedua: Buruk sangka kepada kuam muslimin
Jenis kedua ini pun termasuk dosa besar karena orang yang memvonis kejelekan pada saudaranya muslim hanya dengan dasar persangkaan, setan akan menggiringnya untuk merendahkan dan tidak akan menghormati hak-hak saudaranya tersebut. Malah bisa sampai menggunjing kehormatannya. Semua ini adalah perbuatan yang membinasakan. Bila engkau melihat seseorang berburuk sangka kepada orang lain, karena ingin menampakkan aibnya, maka ketahuilah hal ini karena jeleknya batin orang tersebut. Seorang muslim adalah orang yang selalu memberi udzur kepada orang lain agar batinnya selamat, sedangkan orang munafik adalah orang yang selalu mencari kesalahan dan aib karena batinnya yang jelek. Perhatikanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:
إياكم والظن ، فان الظن أكذب الحديث
Waspadalah kalian terhadap prasangka karena prasangka adalah sejelek-jeleknya perkataan.”[20]
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Prasangka itu ada dua: (1) prasangka yang membawa dosa, dan (2) prasangka yang tidak membawa dosa. Prasangka yang membawa dosa adalah orang yang berprasangka dan curiga kemudian dia membicarakannya. Sedangkan prasangka yang tidak ada dosanya adalah orang yang berprasangka dan curiga tetapi dia tidak berbicara.”[21]
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Maksud dari hadits ini adalah larangan dari berprasangka buruk.” Al-Imam al-Khoththobi rahimahullah mengatakan, “Maksud hadits ini adalah membenarkan dan merealisasikan prasangka jeleknya, bukan sekadar prasangka yang terlintas dalam jiwa karena hal itu di luar batas kemampuan.”[22]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini memberikan isyarat bahwa prasangka yang terlarang adalah prasangka yang tidak bersandar kepada sesuatu apa pun yang bisa dijadikan pijakan dalam menghukumi. Dengan demikian, orang menghukumi sesuatu tanpa pijakan disebut pendusta. Adapun mengapa prasangka semacam ini lebih jelek dari perbuatan dusta, hal itu karena perbuatan dusta pada asal hukumnya sudah jelek, berbeda dengan prasangka. Orang yang berprasangka, dia mengira sudah berpijak kepada sesuatu padahal belum. Penyebutan prasangka lebih jelek hukumnya dari dusta sebagai bentuk celaan yang sangat keras dan agar dijauhi. Hadits ini juga memberi isyarat bahwa orang yang tertipu dengan prasangka lebih banyak dari orang yang berdusta. Karena pada umumnya, prasangka yang terlarang ini tidak diketahui manusia sedangkan perbuatan dusta sudah jelas kejelekannya.”[23]


Tiada ulasan:

Catat Ulasan