BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH
Allah menegaskan
bahawa iman, taqwa, ihsan, baik sangka dan kata-kata
yang baik akan memandu manusia kepada kehidupan yang baik dan menjamin
manusia memasuki syurga Allah.
Sebaliknya keraguan, tabiat
hidup yang buruk, perkataan yang negatif, lintasan hati yang jahat akan
mencetuskan aura buruk, semangat yang lemah dan mendorong kepada kegagalan di
dunia dan akhirat.
Termasuk adab kepada Allah adalah berbaik sangka kepada-Nya.
Berbaik sangkalah kepada Allah dalam segala hal. Sebagai contoh sederhana, jika
kita berdo’a dan dikabulkan, maka hilangkanlah perasaan bahwa Allah tidak
mengasihi kita atau Allah tidak adil, semua ini bentuk kurang adab kepada-Nya,
berbaiksangkalah kepada Allah karena Dia akan menuruti persangkaan para
hamba-Nya. Berdasarkan hadits:
عن أبي هريرة قال : قال
النبي : يقول الله : أنا عند ظن عبد بي
Dari Abu Hurairah bahwasanya
Nabi bersabda, Allah berkata: “Aku menuruti persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku.”[7]
Syaikh Abdul Aziz bin
Baz rahimahullah berkata, “Makna
hadits ini bahwa Allah akan menuruti persangkaan hamba-Nya, maka Dia akan
memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan persangkaan hamba itu kepada-Nya berupa
kebaikan atau kejelekan.”[8]
Maka jadikanlah
prasangkamu kepada Allah selalu perkara baik, niscaya Allah akan membalasnya
dengan kebaikan pula. Sahabatnya mulia Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Demi
Dzat yang tidak ada sembahan selain-Nya, tidaklah seseorang diberikan pemberian
yang paling baik daripada prasangka baiknya kepada Allah. Demi Dzat yang tidak
ada ilah selain-Nya, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah
melainkan Allah akan memberikan apa yang menjadi prasangkanya. Hal itu karena
kebaikan ada di tangan-Nya.”[9]
Dan perlu kami ingatkan di sini, bahwa sikap berbaik sangka
kepada Allah bukan berarti kita bersandar dengan rahmat-Nya dan tidak takut akan
siksa-nya, seperti orang yang berbuat maksiat lalu dia menyangka bahwa Allah
tidak mengawasi dan tidak akan membalasnya, Allah telah mengingatkan hal ini
dalam firman-Nya:
وَمَا كُنتُمْ تَسْتَتِرُونَ
أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ
وَلَكِن ظَنَنتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيراً مِّمَّا تَعْمَلُونَ
وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم
مِّنْ الْخَاسِرِينَ
Kamu sekali-kali tidak dapat
bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu kepadamu
bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu
kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka
kepada Rabbmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk
orang-orang yang merugi. (QS. Fushshilat [41]:
22-23)
Hai orang-orang yang beriman,
jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan), karena sebagian dari purbasangka
itu dosa. (QS. al-Hujurot [49]: 12)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
“Allah melarang para hamba-Nya yang beriman dari perbuatan banyak curiga,
prasangka, dan dugaan, baik kepada keluarga, kerabat, atau manusia pada umumnya
jika tidak pada tempatnya. Sebab, pada sebagian prasangka dan curiga itu
terdapat dosa, maka jauhilah perbuatan banyak curiga sebagai pencegahan dari
dosa.” [11]
HUKUM BURUK SANGKA
Al-Imam Ibnu Hajar
al-Haitami rahimahullah memasukkan buruk sangka
sebagai perbuatan dosa besar. Beliau berkata, “Dosa besar ini termasuk perkara
yang harus diketahui oleh seorang mukallaf, agar dia bisa terhindar dan dapat
mengobatinya. Sebab, barang siapa yang dalam hatinya ada perangai buruk sangka,
dia tidak akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan hati yang selamat. Dosa
besar ini menjadikan seorang hamba tercela, lebih besar celaannya dari
perbuatan zina, mencuri, minum khamar, dan dosa lainnya karenadampak kerusakan
dari buruk sangka sangat besar, pengaruhnya sangat jelek dan akan terus ada.”[12]
MACAM-MACAM BURUK SANGKA
Pertama: Buruk sangka kepada
Allah
Perbuatan ini lebih besar dosanya daripada berputus asa dari
rahmat Allah. Buruk sangka kepada Allah tidak sekadar putus asa, tetapi lebih
besar dari itu. Ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahwa Allah akan menuruti
persangkaan para hamba-Nya. Ingatlah selalu hadits yang berbunyi:
أنا عند حسن ظن عبدي بي
فليظن بي ما شاء ، إن خيرا فخير وإن شرا فشر
“Aku
menuruti persangkaan baik para hamba kepada-Ku. Hendaklah ia berprasangka
sekehendaknya. Apabila ia berprasangka baik maka akan baik, apabila ia
berprasangka buruk maka akan buruk pula.”[14]
Jika kita mendapat sesuatu yang menurut kita tidak baik, maka
janganlah berburuk sangka kepada Allah bahwa Allah tidak mengasihi dan tidak
adil kepada kita. Akan tetapi berbaik sangkalah kepada-Nya, karena hasil dan
buahnya juga akan baik. Perhatikanlah hal ini wahai saudaraku seiman! Janganlah
kita mengikuti kebiasaan orang-orang yang selalu berburuk sangka kepada Allah.
Allah mengingatkan perkara ini dalam firman-Nya:
إِذْ تُصْعِدُونَ وَلاَ
تَلْوُونَ عَلَى أحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ فَأَثَابَكُمْ
غُمَّاً بِغَمٍّ لِّكَيْلاَ تَحْزَنُواْ عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ مَا
أَصَابَكُمْ وَاللّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم
مِّن بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُّعَاساً يَغْشَى طَآئِفَةً مِّنكُمْ وَطَآئِفَةٌ
قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ
الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الأَمْرِ مِن شَيْءٍ قُلْ إِنَّ
الأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ
(Ingatlah) ketika kamu lari dan
tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu
yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas
kesedihan[15] ,
supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan
terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan
(berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu[16] ,
sedang segolongan lag[17]i
telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar
terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah[18] .
Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam
urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah“. (QS.
Ali Imron [3]: 153-154)
Al-Imam Ibnul
Qoyyim rahimahullah mengatakan,
“Kebanyakan manusia berburuk sangka kepada Allah, baik dalam perkara yang
menimpa mereka atau selain mereka. Sedikit sekali orang yang selamat dari hal
ini kecuali orang yang punya pengetahuan terhadap nama dan sifat Allah.
Hendaknya orang yang berakal memperhatikan masalah ini. Segeralah bertaubat dan
memohon ampun kepada Allah jika kita berburuk sangka kepada –Nya. Jika engkau
lihat dan perhatikan keadaan manusia, di antara mereka ada yang berlebihan
dalam masalah takdir, dia berkata, ‘Seharusnya begini dan begini.’ Maka
berintrospeksilah sendiri apakah engkau selamat dari hal ini? Jika engkau
selamat maka engkau telah selamat dari perkara yang besar, jika tidak maka aku
tidak mengira engkau bisa selamat.”[19]
Kedua: Buruk sangka kepada kuam
muslimin
Jenis kedua ini pun
termasuk dosa besar karena orang yang memvonis kejelekan pada saudaranya muslim
hanya dengan dasar persangkaan, setan akan menggiringnya untuk merendahkan dan
tidak akan menghormati hak-hak saudaranya tersebut. Malah bisa sampai
menggunjing kehormatannya. Semua ini adalah perbuatan yang membinasakan. Bila
engkau melihat seseorang berburuk sangka kepada orang lain, karena ingin
menampakkan aibnya, maka ketahuilah hal ini karena jeleknya batin orang
tersebut. Seorang muslim adalah orang yang selalu memberi udzur kepada orang
lain agar batinnya selamat, sedangkan orang munafik adalah orang yang selalu
mencari kesalahan dan aib karena batinnya yang jelek. Perhatikanlah hadits
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:
إياكم والظن ، فان الظن أكذب
الحديث
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata,
“Prasangka itu ada dua: (1) prasangka yang membawa dosa, dan (2) prasangka yang
tidak membawa dosa. Prasangka yang membawa dosa adalah orang yang berprasangka
dan curiga kemudian dia membicarakannya. Sedangkan prasangka yang tidak ada
dosanya adalah orang yang berprasangka dan curiga tetapi dia tidak berbicara.”[21]
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,
“Maksud dari hadits ini adalah larangan dari berprasangka buruk.” Al-Imam
al-Khoththobi rahimahullah mengatakan, “Maksud
hadits ini adalah membenarkan dan merealisasikan prasangka jeleknya, bukan
sekadar prasangka yang terlintas dalam jiwa karena hal itu di luar batas
kemampuan.”[22]
Al-Hafizh Ibnu
Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini
memberikan isyarat bahwa prasangka yang terlarang adalah prasangka yang tidak
bersandar kepada sesuatu apa pun yang bisa dijadikan pijakan dalam menghukumi.
Dengan demikian, orang menghukumi sesuatu tanpa pijakan disebut pendusta.
Adapun mengapa prasangka semacam ini lebih jelek dari perbuatan dusta, hal itu
karena perbuatan dusta pada asal hukumnya sudah jelek, berbeda dengan
prasangka. Orang yang berprasangka, dia mengira sudah berpijak kepada sesuatu
padahal belum. Penyebutan prasangka lebih jelek hukumnya dari dusta sebagai
bentuk celaan yang sangat keras dan agar dijauhi. Hadits ini juga memberi
isyarat bahwa orang yang tertipu dengan prasangka lebih banyak dari orang yang
berdusta. Karena pada umumnya, prasangka yang terlarang ini tidak diketahui
manusia sedangkan perbuatan dusta sudah jelas kejelekannya.”[23]